2017/5/11

Berkat karya ini, seniman Jepang menangkan kompetisi Sand Art Festival 2017

Seniman sand art (seni mematung dengan media pasir) asal Jepang, Toshihiko Hosaka baru-baru ini dinobatkan sebagai pemenang dalam kompetisi dunia sand art yang digelar di Fulong, Taiwan pada 6 Mei 2017. Dalam lomba yang digelar setahun sekali tersebut Hosaka mendapat pujian atas karyanya yang berjudul “Miyamoto Musashi”.

201705120037_1.jpg
Karya Hosaka yang meraih juara, “Miyamoto Musashi”

Hosaka yang berhasil meraih penghargaan dalam kompetisi 2017 Fulong International Sand Sculpture Festival ini merupakan salah satu dari dua seniman sand art profesional yang ada di Jepang. Setelah lulus dari Universitas Seni Tokyo, Hosaka langsung memulai karirnya sebagai seniman sand art, dan tahun ini adalah tahun ke-20 ia berkecimpung di bidang tersebut.

201705120037_2.jpg
Seniman sand art Toshihiko Hosaka dan “Miyamoto Musashi”

Karyanya "Miyamoto Musashi” yang memenangkan penghargaan adalah sebuah patung dari pasir yang menggambarkan Musashi, seorang samurai bermartabat tinggi yang sedang duduk bersimpuh dengan sebilah pedang di sisinya. Kerutan-kerutan pada pakaian dan raut wajah Musashi juga diekspresikan baik, bagian matanya yang penuh semangat juga sangat mengesankan. Bagian alas duduk tatami dan pedangnya juga dibuat dengan mendetail dan hati-hati, sehingga tak mengherankan bila karya ini mampu membuat orang yang melihatnya terkagum-kagum.

201705120037_3.jpg
Bagian belakangnya pun keren!

Mengenai kemenangannya kali ini, Hosaka berkomentar, “Saya pikir tidak mudah untuk menang, karena ada 20 peserta dari 14 negara yang turut berpartisipasi dalam lomba tingkat dunia ini. Dengan tema “pahlawan”, saya sangat senang bisa memenangkannya dengan ‘samurai’ Jepang”. Tak hanya itu, Hosaka juga mendapat penghargaan Artist Choice Award melalui voting dari para kontestan lainnya. “Saya senang (dengan dua penghargaan ini),” ujarnya dengan riang.

201705120037_4.jpg
Tropi kemenangan dan sekop emas sebagai tanda peraih Artist Choice Award

Sebagai informasi, sand art tersebut dibuat hanya dengan bahan pasir dan air, tanpa material inti atau rangka. Setelah patung selesai dibuat, bagian permukaan patung selanjutnya disemprot dengan fixing agent untuk mencegah kerusakan karena hujan, angin atau kekeringan. Pasir yang digunakan di kompetisi ini ternyata rapuh dan mudah rontok, apalagi cuaca di lokasi sangat panas sehingga Hosaka harus berkarya sambil menjaga kelembaban pasir. Waktu produksi yang hanya 3 hari juga membuat Hosaka cukup kesulitan karena harus berkarya sambil memerhatikan kecepatan kerja dan menghawatirkan datangnya hujan.

Terakhir, saat ditanya mengenai daya tarik sand art, Hosaka menjawab, “Saya pikir daya tariknya adalah bagaimana membuat karya di tengah-tengah alam, dengan bahan yang berasal dari alam, dan setelah beberapa waktu, karya itu akan kembali ke alam pula.”
 

Usai berkarya di Fulong, mulai 18 Mei 2017 Hosaka akan membuat salt art dalam acara Sakaide Port Festival (Kota Sakaide, Prefektur Kagawa), karya tersebut mulai dipamerkan pada 27 Mei mendatang. Hosaka juga akan memamerkan sand art buatannya pada Ishikari Beach Sand Park 2017 mulai 15 Juli 2017, dan Sandcraft 2017 in Mitane mulai 29 Juli 2017. Selain itu, pada awal Juli mendatang Hosaka telah menjadwalkan kelas sand art di Prefektur Aichi.

Kunjungi pula official website Hosaka untuk melihat karya-karyanya yang lain.

Sand Art karya Toshihiko Hosaka


201705120037_5.jpg
Karya favorit Hosaka "Alice", pada event Sandcraft 2016 in Mitane, Yamamoto, Prefektur Akita


201705120037_6.jpg
“Godzilla” yang dibuat pada Shinjuku Creators Festa 2015 di Shinjuku, Tokyo

201705120037_7.jpg
"Tyrannosaurus” yang dibuat untuk eksibisi dinosaurus pasir pada Asahi Sand Sculpture Art Exhibition 2016 di Asahi, Prefektur Chiba

Sumber gambar: Toshihiko Hosaka, Otsuhata

CATEGORIES